| Rapat koordinasi unsur Forkopimda,camat dan kepala desa bersama Bupati Ketapang, Alexander Wilyo (ist) |
Mediadialog.id — Pemerintah Kabupaten Ketapang resmi menaikkan status penanganan bencana dari siaga menjadi tanggap darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai Rabu (2/9/2026).
Keputusan ini diambil seiring memburuknya situasi karhutla yang kini telah meluas hingga ke 15 dari total 20 kecamatan di Kabupaten Ketapang.
Selain meluasnya titik api, penurunan kualitas udara, melonjaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan ancaman krisis air bersih menjadi pertimbangan utama penetapan status ini.
Keputusan tersebut disepakati dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat Utama Bupati Ketapang yang melibatkan unsur Forkopimda, camat, serta kepala desa secara daring.
Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, menegaskan bahwa perubahan status ini menuntut pergeseran total dalam pola penanganan di lapangan. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga tingkat desa diinstruksikan untuk memusatkan sumber daya guna mempercepat pemadaman.
“Ini menjadi dasar kita untuk mengambil kebijakan yang lebih jauh, termasuk mengerahkan sumber daya yang ada untuk penanggulangan karhutla,” tegas Alex.
Dari segi personel, Alexander menyampaikan bahwa kekuatan pasukan di lapangan terbilang mencukupi berkat tambahan personil Brimob dan TNI dari luar Kalimantan.
Namun, ketersediaan peralatan dan akses sumber air masih menjadi tantangan utama, khususnya di kawasan lahan mineral dan wilayah pedalaman yang sulit dijangkau.
Guna mengatasi kendala geografis tersebut, Pemkab Ketapang melayangkan permohonan ke pemerintah pusat dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) Kodam XII/Tanjungpura untuk menambah frekuensi operasi water bombing.
Saat ini, dua unit helikopter bantuan BNPB telah disiagakan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang. satu unit untuk pemadaman udara (water bombing) dan satu unit lainnya untuk patroli pemantauan titik api.
“Kita minta tambahan intensitas water bombing di Ketapang ditingkatkan. Ini sangat efektif di daerah pedalaman atau di tanah mineral. Idealnya makin banyak makin bagus di tengah karhutla yang semakin meluas,” pungkasnya. (AR)
Trending