Listrik Padam Bergilir, RSUD Ketapang Minta PLN Berikan Layanan Prioritas

RSUD Agoes Djam Ketapang (Mediadialog/ist)
Mediadialog.id – Pemadaman listrik bergilir yang melanda Kabupaten Ketapang mulai memberikan dampak serius terhadap operasional pelayanan di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. 

Walau pelayanan kesehatan sejauh ini dilaporkan masih berjalan normal, manajemen rumah sakit harus memutar otak dan menguras anggaran operasional demi mengandalkan genset serta pasokan air darurat setiap kali aliran listrik dari PLN padam.

​Direktur RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, drg. Basaria Rajagukguk, melalui Pelaksana Harian (Plh) Direktur, Yulia Ningsih, mengungkapkan bahwa langkah antisipasi sebenarnya telah disiapkan melalui penyediaan genset berkapasitas besar. 

Mesin pembuat daya tersebut diklaim mampu menyuplai kebutuhan listrik di seluruh area rumah sakit secara otomatis dalam hitungan detik.

​"Sebetulnya listrik itu memang sudah diantisipasi. Kita punya genset, begitu PLN mati lima detik dia langsung bisa backup. Berarti pelayanan pasien masih aman," ujar Yulia, Minggu (5/7).

​Namun, penggunaan genset secara terus-menerus memicu pembengkakan biaya operasional akibat tingginya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Yulia menjelaskan, dalam satu kali siklus pemadaman yang berlangsung sekitar lima hingga tujuh jam, mesin genset rumah sakit menghabiskan sedikitnya tiga drum solar.

​Mengingat jadwal pemadaman dari PLN masih terus berlanjut, manajemen terpaksa menambah ketersediaan stok solar guna memastikan operasional pelayanan tidak lumpuh di tengah jalan.

​"Untuk sekali pemadaman listrik selama lima sampai tujuh jam pemakaiannya tiga drum. Nah, ini saya lihat ada jadwal lagi, kami harus siapkan lagi empat sampai lima drum. Tadi Ibu Direktur dan bagian keuangan juga sudah melakukan rapat, kami sepakat harus menyiapkan BBM solar cadangan sebanyak empat sampai lima drum karena khawatir kalau cuma tiga drum nanti pas-pasan," urai Yulia.

​Dampak pemadaman listrik massal ini ternyata merembet ke sektor vital lainnya. Terganggunya pasokan daya menyebabkan distribusi air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke area rumah sakit terhenti total.

​Menghadapi situasi darurat ini, RSUD dr. Agoesdjam terpaksa mengambil langkah taktis dengan mendatangkan sekitar 10 tangki air bersih mandiri hingga tengah malam demi menjamin kebutuhan pelayanan pasien di seluruh ruangan tetap terpenuhi.

​Melihat besarnya risiko dan tingginya biaya yang harus ditanggung, manajemen RSUD dr. Agoesdjam Ketapang berencana melayangkan surat permohonan resmi kepada pihak PLN, yang nantinya akan ditembuskan langsung kepada Bupati Ketapang. 

Rumah sakit mendesak agar diberikan status sebagai pelanggan prioritas utama selama masa pemadaman bergilir berlangsung.

​"Kami meminta layanan prioritas PLN terhadap rumah sakit. Kalaupun kami harus tetap masuk ke dalam giliran mati lampu, kami harap durasinya jangan lama-lama, maksimal satu jam saja," tegas Yulia.

​Ia menekankan bahwa seluruh manuver darurat yang dilakukan saat ini semata-mata demi menjaga keselamatan pasien agar pelayanan tetap berjalan optimal, khususnya bagi mereka yang kondisi jiwanya bergantung penuh pada alat-alat medis elektronik. 

Pihak manajemen mengaku tidak ingin pengalaman buruk di masa lampau kembali terulang, di mana keterbatasan kapasitas daya genset sempat memicu gangguan pelayanan yang mengancam keselamatan pasien. (AR)

Tinggalkan Komentar

Back Next