MediaDialog.id – Sejumlah warga di Kabupaten Ketapang merasa geram lantaran aliran listrik di wilayah Ketapang, mendadak padam total selama berjam-jam pada Kamis (2/7/2026).
Ironisnya, pemadaman massal ini terjadi tanpa adanya pemberitahuan atau sosialisasi terlebih dahulu dari pihak terkait. Akibatnya, roda perekonomian warga dan berbagai aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari lumpuh total.
Salah seorang warga Delta Pawan, Yoga (26), mengaku sangat geram lantaran listrik padam hampir lima jam sejak pagi hari. Menurutnya, pemadaman sepihak ini sangat memukul produktivitas kerjanya yang seratus persen mengandalkan aliran listrik.
“Dari pagi listrik mati hampir lima jam. Aktivitas kerja saya jadi terganggu karena semua peralatan bergantung pada listrik,” cetus Yoga.
Yoga menilai, tindakan pemadaman tanpa pemberitahuan seperti ini sangat merugikan masyarakat luas, khususnya bagi para pekerja dan pelaku usaha kecil (UMKM) yang menggantungkan pendapatan harian mereka pada pasokan listrik PLN.
“Kalau ada pemberitahuan sebelumnya, mungkin kami bisa bersiap-siap atau mencari alternatif lain. Tapi ini tidak ada informasi sama sekali, jadi kami benar-benar dirugikan,” ujarnya.
Keluhan senada juga meluncur dari Joko (56), warga Desa Sukabangun yang sehari-hari mengais rezeki sebagai perajin mebel. Ia mengaku seluruh proses produksinya mendadak mandek total.
“Pekerjaan saya jadi terhambat karena beberapa alat produksi harus menggunakan listrik. Kalau mati berjam-jam seperti ini, tentu sangat mengganggu omzet kami,” ungkap Joko pasrah.
Tak hanya sektor pertukangan, bisnis jasa seperti laundry pun ikut menjerit. Sutia (35), seorang pemilik usaha laundry di wilayah Muara Pawan, mengeluhkan operasional usahanya yang terpaksa gulung tikar seharian akibat mesin cuci yang tak bisa berputar.
"Sangat terganggu! Kita mau cuci pakaian tidak bisa, sehingga hari ini operasional usaha terhenti total," ketusnya.
Bahkan, dampak pemadaman ini merembet hingga ke urusan domestik rumah tangga yang paling mendasar. Gara-gara pompa air mati, Sutia mengaku keluarganya terpaksa menggunakan air minum kemasan demi bisa membersihkan diri.
"Bahkan untuk mandi saja kita sampai harus pakai air galon. Karena air tidak bisa mengalir akibat mesin air tidak bisa hidup," keluhnya.
Sutia pun mendesak agar pihak PLN lebih profesional dengan memberikan informasi berkala jika akan ada pemeliharaan jaringan, sehingga warga tidak menjadi korban dadakan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ketapang masih belum memberikan keterangan atau rilis resmi terkait pemadaman dan penyebab gangguan masif tersebut. Warga setempat juga kompak mengaku sama sekali tidak menerima surat edaran atau pengumuman digital mengenai adanya jadwal pemadaman.
Namun, berdasarkan pantauan langsung di lapangan, sejumlah petugas PLN tampak sibuk melakukan aktivitas pemasangan kabel pada barisan tiang listrik baru di beberapa titik strategis di Kota Ketapang.
Dugaan sementara, pemadaman panjang ini berkaitan erat dengan proyek pengerjaan infrastruktur baru tersebut. Meski demikian, kepastian penyebab utama masih menunggu penjelasan dan pertanggungjawaban resmi dari manajemen PLN UP3 Ketapang. (AR)
Trending