MediaDialog.id – Sulitnya mendapatkan gas LPG 3 kilogram atau "gas melon" dalam beberapa waktu terakhir, menjadi keluhkan sejumlah warga di Kabupaten Ketapang.
Meski pasokan di tingkat pangkalan dilaporkan mulai membaik, masyarakat mengaku masih harus berburu gas ke warung-warung pengecer dengan harga yang melambung tinggi.
Ary, salah seorang warga Ketapang, mengungkapkan bahwa ketersediaan LPG 3 kg di pangkalan resmi sebenarnya relatif aman jika sesuai jadwal. Namun, masalah muncul ketika stok di pangkalan habis sebelum jadwal distribusi berikutnya tiba. Pada momen itulah warga terpaksa membeli di warung pengecer.
"Kalau untuk di pangkalan aman mah, untuk di warung ni agak susah, kalau pun ade (ada) mahal bah," ujar Ary, Senin (22/6).
Menurut Ary, kondisi kelangkaan terparah sempat dirasakan sekitar dua pekan lalu. Saat itu, harga di tingkat pengecer bahkan menyentuh angka Rp 40 ribu per tabung.
"Harapannye cuman satu aja, gimana barang ini supaya enggak susah dicari aja sih. Kalau pangkalan gak ada, ya minimal di warung ada, itu aja," harap Ary.
Pantauan Tribun Pontianak di kawasan Payak Kumang, Kabupaten Ketapang, menunjukkan ketersediaan LPG 3 kg di sejumlah warung sembako memang belum menentu.
Stok gas kerap kosong, membuat warga yang membutuhkan harus mencari ke beberapa tempat.
Selain kelangkaan, disparitas harga menjadi persoalan utama. Di tingkat pengecer, harga gas melon sangat bervariasi dan meroket tajam berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 45.000 per tabung. Angka ini jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di pangkalan resmi.
Di sisi lain, pemilik Pangkalan LPG 3 Kg di Jalan Brigjen Katamso, Sukaharja, Kecamatan Delta Pawan, Darmanto, mengakui bahwa pasokan yang diterimanya sempat mengalami penurunan signifikan pada Mei 2026 lalu.
"Dulu tu seribu lebih datang sebulan, tapi sekarang tu tinggal 900-an lebih aja sebulan. Endak ada pemberitahuan kalau ada pemotongan kuota, tapi pas perhitungan kemarin di bulan Mei dapatnya segitu," ungkap Darmanto.
Ia menjelaskan, jadwal maupun jumlah pengiriman gas subsidi dari agen sulit dipastikan karena bergantung pada pihak pengantar.
"Satu minggu dua kali, itu endak nentu hari apa, tergantung yang ngantar," jelasnya.
Darmanto menceritakan, kondisi paling kritis terjadi pada Mei lalu, di mana dalam sekali pengiriman mereka hanya menerima sekitar 60 tabung. Beruntung, dalam beberapa waktu terakhir, pasokan mulai merangkak naik.
"Sekarang alhamdulillah udah mulai 100 lagi sekali antar," Ungkapnya. (AR)
Trending