MediaDialog.id – Pasca-penyegelan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 64.788.16 di Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, masyarakat setempat mulai menjerit.
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite memicu lonjakan harga yang drastis di tingkat pengecer.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Orang Melayu (POM) Kecamatan Sungai Laur, Hendra Wahyudi, mendesak pihak Pertamina untuk segera mengambil langkah taktis dengan menjual BBM Pertalite melalui sistem darurat.
Sebagai informasi, Pertamina telah menyegel SPBU tersebut sejak 25 Mei 2026 lalu. Penyegelan dilakukan setelah ditemukannya armada mobil tangki Patra Niaga yang diduga melakukan aktivitas ilegal berupa penyelewengan BBM di jalanan.
Hendra Wahyudi mengungkapkan bahwa memasuki hari ke-10 pasca-penyegelan, dampak ekonomi sangat dirasakan oleh masyarakat. Minimnya pasokan membuat harga Pertalite di pasaran melonjak tak terkendali.
"Melihat situasi harga BBM jenis Pertalite saat ini sudah sangat meroket. Untuk di sekitaran pasar Laur saja harganya sudah tembus Rp 17.000 per liter, dan di daerah pedalaman bahkan mencapai Rp 20.000 per liter," ungkap Hendra kepada wartawan, Kamis (4/6).
Menurut Hendra, masyarakat sangat berharap Pertamina memisahkan antara proses hukum kasus "mafia BBM" dengan pemenuhan kebutuhan dasar hajat hidup orang banyak.
Pihak POM Sungai Laur menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak berniat mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan di Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat.
"Kalau pun SPBU 64.788.16 masih dalam masa pembinaan Pertamina dan proses hukum di Polda Kalbar, silakan dilakukan dengan baik dan profesional. Kami masyarakat Sungai Laur tentu mendukung penuh langkah yang dilakukan Pertamina dan Polda Kalbar untuk menemukan titik terang pelaku mafia BBM bersubsidi itu," tambah Hendra.
Meski demikian, penegakan hukum diharapkan tidak mengorbankan hak masyarakat kecil untuk mendapatkan akses BBM bersubsidi yang terjangkau. Oleh karena itu, penjualan dengan mekanisme darurat dinilai sebagai solusi paling tepat saat ini.
Jika dalam waktu dekat Pertamina tidak segera menurunkan tim atau memberikan solusi konkret terkait pasokan Pertalite darurat, masyarakat Sungai Laur menyatakan siap mengambil tindakan yang lebih tegas.
"Namun kalau memang dalam beberapa hari ke depan belum juga ada tindakan nyata dari Pertamina terkait dengan penjualan BBM jenis Pertalite yang dilakukan dengan cara penjualan darurat, kami masyarakat Sungai Laur akan melakukan aksi demo," tegas Hendra.
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi telah mencoba melakukan konfirmasi kepada pihak Polda Kalbar, Pertamina, serta pemilik SPBU 64.788.16. Namun, belum ada tanggapan atau jawaban resmi dari pihak-pihak terkait. (LC)
Trending