BPBD Kalbar Klaim Karhutla Ketapang Difokuskan Sejak April, Data Lapangan Menunjukkan Berbeda

Ilustrasi AI (Mediadialog/ist)
Mediadialog.id - Pernyataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat mengenai fokus operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang dinilai berbeda dengan fakta di lapangan.

​Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, menyatakan pihaknya telah memfokuskan operasi ke wilayah tersebut sejak awal April 2026 karena tingginya jumlah titik api.

​"BPBD Provinsi bergerak dari awal April untuk mengarahkan operasi. Kami memfokuskan ke wilayah yang paling banyak titik apinya, yaitu Kabupaten Ketapang," ujar Ridwan kepada awak media, Senin (5/10/2026).

​Namun, data BPBD Kabupaten Ketapang menunjukkan peristiwa karhutla tidak berlangsung secara terus-menerus sejak April. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwanto, menjelaskan karhutla di wilayahnya terjadi dalam dua tahapan sepanjang 2026.

​"Karhutla di Ketapang terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung dari 18 Januari hingga 29 Maret 2026, sedangkan tahap kedua baru dimulai pada 5 Juli hingga sekarang," jelas Yunifar, Jumat (9/10/2026).

​Berdasarkan data tersebut, kebakaran tahap pertama telah padam pada akhir Maret, sementara karhutla tahap kedua baru kembali muncul pada awal Juli.

​Perbedaan linimasa ini juga diperkuat oleh catatan operasional penerbangan di Bandar Udara Rahadi Oesman Ketapang. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Bandara Rahadi Oesman, Dwi Muji Raharjo, mengungkapkan dukungan helikopter penanganan karhutla baru siaga (standby) di bandara sejak pertengahan Agustus.

​"Helikopter baru mulai standby di Bandara Rahadi Oesman sejak 18 Agustus 2026, diawali armada milik PT Smart Cakrawala Aviation (N61AA)," kata Dwi.

​Hingga Kamis (8/10/2026), terdapat empat unit helikopter yang disiagakan untuk penanganan udara, terdiri dari dua helikopter water bombing dan satu helikopter patroli milik BNPB, serta satu helikopter water bombing pihak swasta.

​Dwi menambahkan, operasional penerbangan helikopter dilakukan setiap hari dengan tetap memprioritaskan faktor jarak pandang (visibility). Jika kondisi visibility di bawah batas aman, penerbangan tidak dapat dilaksanakan. (AR)

Tinggalkan Komentar

Back Next