Meski Karhutla Ketapang Menurun, Kualitas Udara Masih Berada di Level Berbahaya

Kabut asap tebal selimuti kota Ketapang (mediadialog/ist)
Mediadialog.id — kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dilaporkan mulai menurun, namun kualitas udara di wilayah tersebut belum menunjukkan perbaikan.

Kabut asap pekat masih kerap menyelimuti pemukiman warga, memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan.

​Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) selama sepekan terakhir, kualitas udara di Ketapang secara konsisten berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

​Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ketapang, Eko Harfiyanto, mengonfirmasi bahwa kabut asap tebal paling sering muncul pada jam-jam tertentu, khususnya sejak pagi hingga siang hari.

​"Dari hasil pemantauan dalam satu pekan terakhir, kabut asap pekat dan tebal, terutama sekitar pukul 06.00 hingga 12.00 atau menjelang sore hari," kata Eko saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2026).

​Eko menjelaskan bahwa angka ISPU sempat menembus ambang batas yang mengkhawatirkan akibat tingginya konsentrasi partikel debu halus (PM 2,5).

​Eko mengingatkan bahaya laten dari tingginya partikel mikroskopis ini bagi warga yang beraktivitas tanpa perlindungan.
​"Ini sangat mengganggu kesehatan karena partikel yang kecil, 2,5 mikron itu bisa langsung masuk ke paru-paru dan mengendap yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya ISPA", terangnya

​Guna menangani krisis kualitas udara ini, DLH Ketapang terus berkoordinasi intensif dengan lintas instansi. Hasil pemantauan berkala akan dijadikan bahan evaluasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) selaku komando penanganan karhutla. (AR)

Tinggalkan Komentar

Back Next