Rawat Kerukunan Lewat Tradisi, Masyarakat Melayu-Bugis Gelar Pencucian Pusake Tanah Kayong

Prosesi adat pencucian Pusake Tanah Kayong (Mediadialog/ist)
MediaDialog.id — Masyarakat Melayu-Bugis Kabupaten Ketapang menggelar tradisi Pencucian Pusake Tanah Kayong yang berlangsung khidmat di halaman Pendopo Bupati Ketapang, Minggu (28/6) malam.

​Acara sakral tersebut dihadiri langsung Wakil Bupati Ketapang Jamhuri Amir, unsur Forkopimda, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat. 

Tak hanya itu, hadir pula perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Melayu dan Bugis dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara untuk menyaksikan prosesi penyucian senjata pusaka serta pembacaan sumpah setia Melayu-Bugis.

​Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan instrumen penting dalam menjaga nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur agar tidak punah tergerus zaman.

​"Tradisi Pencucian Pusake Tanah Kayong bukan sekadar seremoni belaka, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam. Kegiatan ini merupakan simbol penghormatan terhadap sejarah, leluhur, serta nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan kepada generasi-generasi penerus," ujar Jamhuri Amir.

​Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Rion Sardi, mengungkapkan bahwa agenda ini lahir dari kerinduan mendalam masyarakat Melayu-Bugis untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang sudah puluhan tahun absen dilaksanakan. 

Senjata-senjata pusaka yang dibersihkan merupakan peninggalan sejarah yang bertahun-tahun tidak pernah dijamah maupun disucikan.

​"Kami masyarakat Melayu-Bugis Kabupaten Ketapang pada malam hari ini melestarikan peninggalan sejarah budaya orang tua kami, yaitu pusaka yang sudah lama sekali tidak pernah dijamah, tidak pernah disucikan, dan tidak pernah dibersihkan. Malam hari ini kami menyucikan kembali peninggalan sejarah dari nenek moyang kami," jelas Rion Sardi.

​Rion menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mempelajari sejarah dan adat istiadat setempat. Ia khawatir, jika tidak ada kepedulian dari generasi penerus, kekayaan identitas budaya daerah lambat laun akan hilang ditelan modernisasi zaman.

​Panitia berharap ke depan tradisi Pencucian Pusake Tanah Kayong dapat terus berjalan setiap tahunnya, sekaligus menjadi perekat persaudaraan antara masyarakat Melayu dan Bugis di Kabupaten Ketapang. (AR)

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Next