| Kondisi lahan gambut yang terbakar di wilayah Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS) Ketapang (MediaDialog/Ist) |
MediaDialog.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data satelit BMKG per 20 Agustus 2026, sebanyak 1.795 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Ketapang, menjadikannya daerah dengan sebaran hotspot tertinggi di Kalimantan Barat.
Dari total tersebut, sebanyak 81 hotspot terdeteksi dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sementara secara keseluruhan, Kalimantan Barat mencatat 3.759 hotspot.
Kondisi ini terjadi di tengah rendahnya potensi hujan di Kalimantan Barat yang diperkirakan masih berlangsung hingga 27 Agustus 2026. Situasi tersebut membuat risiko karhutla masih berada pada level tinggi.
Kasatgas Informasi Bencana BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan penanganan karhutla terus diperkuat melalui operasi pemadaman di darat maupun udara.
“Ketapang menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi, yakni mencapai 1.795 titik, termasuk 81 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi,” kata Daniel, Jumat (21/8/2026).
Selain Ketapang, jumlah hotspot cukup tinggi juga terpantau di sejumlah daerah lain. Sanggau mencatat 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik dan Melawi sebanyak 190 titik.
Daniel menyebut karhutla di sejumlah wilayah Kalbar mulai memberikan dampak terhadap jarak pandang. Di Ketapang dan Kubu Raya, jarak pandang sempat turun hingga kurang dari satu kilometer akibat kabut asap tebal pada pagi hari.
Dampak kabut asap juga mulai dirasakan masyarakat Ketapang. Sejumlah warga mengeluhkan gangguan pernapasan, terutama mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
“Sudah sangat terasa sekali, apalagi kita sering beraktivitas di luar ruangan. Napas terasa sesak,” ujar Riko, warga Ketapang.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Ketapang.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang yang dihimpun dari 24 puskesmas dan rumah sakit mencatat 587 kasus ISPA pada pekan ke-29 tahun 2026.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 597 kasus pada pekan ke-30 dan kembali melonjak menjadi 673 kasus pada pekan ke-31.
Artinya, dalam kurun tiga pekan terjadi penambahan sebanyak 86 kasus ISPA.
Selain ISPA, kasus diare juga menunjukkan tren peningkatan. Pada pekan ke-29 tercatat 136 kasus, kemudian naik menjadi 141 kasus pada pekan ke-30 dan kembali meningkat menjadi 164 kasus pada pekan ke-31.
Peningkatan kasus penyakit tersebut terjadi bersamaan dengan kondisi kemarau dan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Ketapang.
Situasi ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan ketika kabut asap pekat menyelimuti wilayah permukiman. (Pri)
Trending