Rp10 Ribu per Porsi Tak Sesuai, BGN Siap Audit dan Suspend Dapur MBG

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyangsaat kegiatan Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola MBG di Kabupaten Pacitan (Foto Istimewa)
MediaDialog.id - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, melontarkan kritik keras terhadap mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai lepas tangan dalam pengelolaan dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG).

Nanik menegaskan, mitra tidak boleh hanya menerima insentif Rp6 juta per hari tanpa terlibat langsung dalam pengawasan operasional dapur. Menurutnya, praktik menyerahkan sepenuhnya pengelolaan dapur kepada relawan atau petugas lapangan merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi.

“Anda di rumah cuma menyuruh pembantu atau siapa untuk melihat dapur, terus kongko-kongko dapat Rp6 juta sehari, itu keterlaluan,” ujar Nanik saat kegiatan Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola MBG di Kabupaten Pacitan, Sabtu (7/2/2026).

Ia menekankan, mitra wajib memastikan seluruh sistem dapur berjalan sesuai standar, termasuk menyiapkan chef cadangan untuk mengawasi proses memasak dan menjaga kualitas makanan.

Nanik juga mengingatkan bahwa insentif Rp6 juta per hari yang diterima mitra sudah mencakup biaya sewa peralatan dapur. Karena itu, seluruh peralatan yang digunakan harus baru, layak, dan berkualitas. 

Selain itu, pembangunan dapur SPPG wajib mengikuti Petunjuk Teknis (Juknis) BGN sebagai syarat penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan.

“Kalau tidak sesuai juknis, Dinkes akan meminta dapur diperbaiki sampai memenuhi standar,” katanya.

Selain itu, mitra diwajibkan merekrut sukarelawan yang telah melalui tes kesehatan, melakukan pemeriksaan berkala setiap empat bulan, serta mendaftarkan seluruh karyawan ke BPJS Ketenagakerjaan.

Namun demikian, Nanik menegaskan mitra tidak boleh mengintervensi operasional dapur, terlebih mengatur menu makanan yang telah disusun oleh ahli gizi.

"Masa makanan sudah disusun ahli gizi terus (Anda) mengambil alih. Ini yang terjadi viral, yang sekarang lagi ramai. Ini intervensi, lah sampean iyu sing pinter itu ahli opo sampean? (yang pintar itu ahli gizi atau Anda?) Kok malah mengatur ahli gizi. Mergo blonjone ben iso murah, ben iso njukuk bathi akeh (karena belanjanya bisa murah sehingga bisa untung banyak," ujarnya dengan nada tegas.

Ia mengungkapkan, saat ini BGN tidak hanya menutup dapur karena insiden keamanan pangan, tetapi juga akibat penyimpangan penggunaan anggaran.

“Kalau penggunaan anggaran Rp10 ribu per porsi tidak benar, kami audit. Kalau enggak benar, kami suspend,” tegasnya.

Berdasarkan hasil investigasi, BGN menemukan banyak kasus permainan anggaran belanja bahan baku yang berdampak langsung pada penurunan kualitas makanan dan nilai gizi. 

Nanik menegaskan, apabila terbukti mitra mengintervensi menu atau menggunakan bahan pangan berkualitas rendah demi keuntungan pribadi, maka dapur MBG akan langsung dihentikan sementara.

“Begitu saya tahu dan menemukan mitra intervensi menu dan kualitas bahan nomor dua, saya langsung suspend satu minggu,” pungkasnya. (Ary)

Tinggalkan Komentar

Back Next